Hati-hati dalam Memilih Makanan “Pengganjal" Perut
05.43
Situasi ini mungkin kerap menghampiri: Anda merasa lapar di antara
waktu makan. Saat perut mulai “berbunyi” dan mulut tak bisa menahan
godaan untuk mengunyah, beberapa potong brownies atau sekantong keripik
kentang mampu menjadi "pengganjal" perut, sambil tetap melakukan
aktivitas kantor atau pekerjaan rumah.
Sayangnya, rutin memakan camilan yang salah dalam porsi yang cukup
banyak bisa memicu penyakit metabolik. Ungkap sebuah penelitian yang
baru saja dirilis pekan ini dalam jurnal FASEB.
Para peneliti mendapati, orang-orang yang rutin mengonsumsi camilan
tidak sehat di antara waktu makan, berpotensi mengalami reaksi berantai
pada tubuh yang akhirnya menyebabkan penyakit metabolik.
Mayo Clinic mendefinisikan penyakit metabolik atau sindrom metabolik sebagai kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, serta diabetes.
Semua itu dimulai dari peningkatan tekanan darah, gula darah yang
tinggi, kelebihan lemak tubuh sekitar pinggang, serta naiknya kadar Kolesterol yang disebabkan oleh makan berlebih di luar jam makan utama.
Dr. Susan Wopereis dan tim peneliti dari TNO, Microbilogy, and
Systems Biology Group di Belanda melibatkan dua kelompok relawan dewasa.
Satu kelompok terdiri dari 10 orang sehat, sementara kelompok lain
terdiri dari 9 orang dengan risiko sindrom metabolik.
Kedua kelompok terlebih dahulu diambil sampel darah sebelum diminta untuk meminum segelas milkshake.
Setelah segelas minuman tinggi kalori tersebut habis, peneliti
menemukan proses biokimia yanga bnormal yang berhubungan dengan
pencernaan gula dan lemak pada tubuh responden di kelompok kedua.
Kelompok pertama lantas diminta rutin memakan camilan di antara waktu
makan, seperti kue, kacang, permen, keripik setiap harinya. Peneliti
menemukan, kebiasaan mengemil tersebut mampu menambah kalori yang masuk
ke dalam tubuh hingga 1300 kalori dan setelah 4 minggu berjalan
ditemukan proses biokimia abnormal seperti yang terjadi pada kelompok
kedua.
“Sering mengonsumsi makanan tidak sehat, terutama junk food adalah situasi di mana otak berkata ‘iya’ namun tubuh berkata ‘tidak’,” kata Dr. Gerald Weissman, pemimpin redaksi dari jurnal FASEB.
Sayangnya penelitian ini mengingatkan kita untuk menggunakan otak untuk
mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh tubuh. Camilan lezat ternyata
punya konsekuensi kesehatan yang lebih besar ketimbang kelezatan yang
didapat,” lanjutnya. Hati-hati dalam memilih makanan pengganjal perut.
0 komentar